Cerita BBM

Heboh dan rusuh. Dua kata yang menggambarkan situasi Indonesia beberapa hari belakangan ini. Bak masa Reformasi, banyak masa turun ke jalan untuk memperjuangkan hak rakyat. Cerita BBM memang menjadi TT alias trend topic. Bukan karena banyaknya rakyak Indonesia yang twittering seputar isu kenaikan BBM tetapi memang wacarana kenaikan BBM itu sendiri lah yang sangat kontroversial.

Memang saya sendiri nggak begitu update dengan masalah ini, alasan pembelaan diri ya pertama, gak punya TV, kedua, sibuk mau UTS sehingga sedikit mengurangi intensitas online juga. Alasan yang manusiawi memang.

Sebenernya, saya sendiri setelah membaca beberapa alasan tentang rincian mengapa BBM dinaikkan, saya sendiri setuju BBM itu dinaikkan menimbang untuk terus dapat subsidian itu juga banyak dampak negatifnya. Memang ini subjektif, alasan yang ingin saya sampaikan menurut pendapat saya sendiri dan tidak didukung oleh beberapa data, namun berikut beberapa poin yang saya rangkum dari April Moop yang dipersembahkan oleh pemerintah ini.

Pertama, untuk menjadi minyak yang diencer seharga Rp4.500 per liter itu sendiri membutuhkan dana yang sangat banyak. Menurut saya harga tersebut sudah sangat murah dan nggak masuk akal. Masuk saya, untuk untuk negara sangat sedikit. Dengan untung yang sedikit, menurut saya, rakyak cuma mau senang dan membebankan terlalu besar kepada pemerintah. Kapan utang-utang negara kita bisa lunas kalau rakyat sendiri tidak mau membantu (ya terlepas nanti bagaimana pemerintah kita, hitam atau putih)

Kedua, adanya wacana subsidi yang diajukan jika BBM naik dan memberikan bantuan untuk rakyat. WTH! Poin a. kalau diberikan subsidi lagi, please, kembali membebani negara. poin b. kalau mau disubsidi, rakyat sangat bodoh dan malas. Wajar Indonesia ga akan maju-maju.

Ketiga, proses pemukulan mahasiswa UI oleh aparat keamanan yang nggak perlu gua sebutin. Menurut saya, ya walaupun sekali lagi saya awalnya sepaham untuk kenaikan BBM, tapi proses pemukulan itu sangat SANGAT ………………. (teman-teman bisa jawab sendiri). Logikanya ya, udah dari pagi siang dan sore hingga akhirnya dini hari, tempramen ornag wajar naik jika wakil rakyat yang sangat nggak merakyat itu senantiasa mengundur-ngundur dan ga tegas saat persidangan. Bahkan masih ada yang tidur, saya nggak paham lagi itu dari Partai mana. Kalau aparat keamanan mau mukul Mahasiswa karena dinilai anarkis, menurut gua harusnya gebukin tuh para wakil rakyat yang justru lebih bodoh lagi! Saya yakin, kalau bukan karena seragam sebagai aparat keamanan, kalian tau mau mukul yang mana.

Keempat, masalah penginformasian dari media. OK, fine, disiarkan langsung, tapi apa-apaan coba meng-cut berita yang jauh lebih penting yaitu saat menteri keuangan menyampaikan alasan mengapa kenaikan BBM itu terjadi. Yang ada pengeksposan tindakan kekerasan dan kerusuhan. Saya memang bukan anak BEM UI, tapi saya sendiri cukup tau bagaimana cara anak UI bergerak. Almamater Jaket Kuning akan selalu melakukan kajian yang sangat detail dan mendalam jika ingin menyatakan sikap. Sangat miris wartawan seenak jidat dia memberitakan hal yang sok update dan ga ada validitas. Geram, ngerti atau tau kagak sih itu wartawan gimana anak UI bergerak? Ga tau atau mungkin memang menutup fakta atau mungkin.. karena saudara-wartawan-yang-dibayar-dengan-pemberitaan-bodoh bukan dari UI (ya walaupun banyak yang mengabarkan dia bukan almamater UI, subjektif memang, atau ada masalah karena nggak bisa berkuliah di UI sampai memberitakan hal yang sangat ga jurnalistik itu?)

Gua sendiri menegaskan, bukan dari masalah hasil bagaimana BBM ini mau naik atau turun, tapi menurut saya, proses dan pembelajaran dari Cerita BBM ini yang harus dikaji. Setiap orang punya pendapat kok mau naik-turun itu BBM, tapi sangat disayangkan jika yang dilihat itu hanya HASIL NAIK/TURUN dan melupakan kajian pentingnya.

 

Sumber gambar: http://img.ezinemark.com/imagemanager2/files/30006024/2011/03/2011-03-04-11-28-21-3-this-oil-shock-pushed-giant-oil-exporters-in-opec.jpeg diunduh 31032012

Andra Septian
Andra Septian
A full time Jakartan who spend his weekdays as HR Recruitment Supervisor at Coal Mining Company. Enjoying his weekend as a lover

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *