Cinta Pohon Karet

Seragam

Aku tidak suka kalau seragam sekolah ini wajib berkerudung. Iya, aku seorang muslim, tapi saat ini aku belum mengkerudungi imanku sendiri. Peraturan dari pemerintah setempat mwmbuatku harus wajib berjilbab ke sekolah sebagai salah satu atribut wajib seragam SMA.

Tahun pertama aku masuk sekolah, sepatu juga menjadi perkara yang besar. Sekolah menyediakan sepatu dengan merek yang sama untuk setiap murid baru. Tidak adilnya, untuk kakak kelas sepatu mereka sudah tidak sama lagi dan mengapa sekolah tidak memberikan penegasan yang sama untuk senior dan kami yang masih duduk dibangku kelas satu SMA waktu itu.

Sekarang aku sudah kelas tiga SMA. Sepatuku juga sudah tidak sama lagi dengan adik-adik kelas sepuluh yang masih bau kencur. Ini secara tidak langsung sebuah diskriminasi untuk sebuah peraturan di sekolah. Hanya sanggup bertahan untuk siswa baru, kasihan.

Hanya saja, jilbab masih menjadi atribut wajib untuk semua siswi di SMA ini, hhm, siswi di kota ini tepatnya. Ya, sebagai kota yang kental dengan keagamaannya, peraturan seragam sekolah berkerudung sekalipun menjadi fenomena yang biasa. Entahlah, apa hanya aku saja yang sibuk komplen dengan peraturan ini. Kasihan teman-teman non muslim yang harus berjilbab juga ke sekolah hanya karena mereka bersekolah di kota ini, kota dengan kuliatas pendidikan yang bagus.

Suatu hari aku iseng bertanya kepada temanku, Kristin. Ya, aku baru kepikiran untuk bertanya saat sudah melewati dua tahun di SMA ini.

“Kristin, apa artinya seragam (sambil menunjuk ke arah kepala) ini buat kamu?”
“Setelah dua tahun lebih kita bersekolah di sini, kamu baru kepikiran buat bertanya ya, Putri?”

Aku hanya cengengesan sambil melahap coklat yang baru saja aku beli di Kantin bersama Kristin. Ya, Nama aku Putri. Lengkapnya adalah Putri Anggun Dwina. Pernah satu kali aku diledek oleh anak-anak cowok di SMA ini. Katanya orang tuaku sangat tidak kreatif. Sudah tau anaknya seorang perempuan masih juga diberi nama Putri. Ada lagi yang keterlaluan, katanya orang tuaku sangat berharap aku menjadi Putri yang Anggun. Seperti di negeri seribu satu malam saja. Kesal, apalah artinya sebuah nama. Apa aku memang harus seperti puteri raja yang senantiasa anggun? Loh, aku sendiri merasa berdosa dengan seragam ini, aku merasa aku belum sanggup, tapi harus dipaksakan untuk berjilbab.

“Ya mau gimana, Put. Peraturan tetap peraturan. Kalau aku tetap mau bersekolah di sini, ya harus dengan seragam ini.” ujar Kristin membuyarkan lamunanku.

Aku sendiri hanya mengangguk-anggukkan kepala. Ya, sekolah negeri dengan peraturan yang kadang tidak pernah kita mengerti. Aku hanya mengikutinya saja, mau demo pun tak akan didengar oleh yang berkuasa. Judulnya, kamu masih anak sekolah. Ya, demi tetap mengenyam ilmu di sekolah negeri yang terbaik di kota ini,  sangat berbeda mungkin dengan sekolah-sekolah di Ibu Kota.

Hari ini, 1 Desember akan diperingati hari AIDS se-dunia. Ini merupakan tanggal 1 Desember ketiga aku di SMA ini dan baru kali ini akan diadakan peringatan hari AIDS. Dua kali tanggal 1 Desember hanya dilalui dengan hari yang biasa saja, tidak ada yang special, tidak ada pita merah yang dikenakan diseragam sekolah.

Sekolah ku memang sangat kaku dengan isu kesehatan reproduksi remaja. Hanya melalui pelajaran biologi aku dan teman-teman mendapatkan informasi yang bisa dikatakan, sangat sedikit. Heran, mengapa guru-guru biologi juga malu membahas menstruasi, mimpi basah, masturbasi, dan juga hubungan intim. Maksudku, tidak bermaksud berbicara dan memikirkan hal yang porno bukan? Aku rasa kami juga butuh informasi tersebut. Guru agama pasti akan membahas berdosa kalau melakukan hubungan seks sebelum menikah. Guru KWN selalu membahas pentingnya menjadi individu yang bermoral, melakukan seks sebelum menikah itu sangat tidak bermoral katanya. Kalau guru BK di sekolahku, entah mengapa hanya siswa yang berkasus saja yang mau mereka tangani. Saat teman-teman butuh tempat untuk curhat, biasanya mereka tidak mau ke guru BK karena satu sekolah pasti akan heboh bergosip. Atau guru BK hanya sibuk dengan siswa kelas tiga yang akan PMDK. Sedih

“Selamat siang kak Kristin dan kak Putri, kalau perempuan kita duduk di sebelah kiri ya, kak.” sambut Antoni adik kelas kami yang merupakan Ketua OSIS. Aku dan Kristin sangat suka sama Antoni, dia seperti anggota Boy Band Shinee. Sangat lucu

“Kenapa harus dipisah sih duduknya, kan nggak bisa ngegosip!” cetus ku kepada Kristin.
“Hah, kamu kayak nggak ngerti aja sekolah kita gimana. Cowok-cewek mau kegiatan apapun pasti dipisah duduknya, apalagi mau membahas tentang HIV/AIDS.Bisa jantungan guru-guru kita kalau lihat murid-muridnya duduk digabung.

Akupun hanya mengangguk seperti biasa. Sedih nggak sih saat teman-teman berada diposisi saya? Belum mau memakai jilbab, sayapun harus memakainya demi sebuah peraturan seragam sekolah. Tidak ada informasi tentang kesehatan reproduksi di sekolahku. Bahkan duduk bersama cowok juga tidak diperbolehkan. Aneh

“Selamat siang anak-anak, hari ini kita kedatangan tamu dari LSM Peduli HIV/AIDS. Mereka jauh-jauh datang dari Ibu Kota untuk memberikan penyuluhan tentang HIV/AIDS. Namun karena peraturan sekolah kita, nanti untuk diskusi kalian harus dipisahkan antara pria dan wanita.” kata Pak Yano, Wakil Kepala Sekolah.

“Huuu…” hiruk pikuk memecahkan langit-lagit aula sekolah. Tidak heran, mau penyuluhan aja duduknya sudah dipisah. Apalagi nanti diskusi, mungkin menurut guru tidak baik digabungkan, apa kami sebagai perempuan tidak boleh tau cara memakai kondom  buat pria? Hm, tidak mungkin. Pasti dosa kata guru-guru

“Ada juga loh kondom untuk perempuan, bentuknya lebih besar dari kondom perempuan.” kata kak Ambar yang memberikan penyuluhan. “Kami sebenarnya membawa banyak kondom untuk kalian, namun pihak sekolah melarang untuk dibagikan kepada murid-murid semua.

Sudah diduga, sekolah ku memang sangat kaku. Aku juga menebak, kegiatan ini hanya diadakan untuk dokumentasi kegiatan sekolah agar dana SBI tidak dicabut, hm, hanya menerka, mungkin seperti itu. Tapi sudahlah, sebentar lagi aku juga akan tamat SMA.


Rok Mini

Sekarang aku sudah berkuliah di Ilmu Komunikasi di salah satu universitas negeri terbaik di negeri ini. Aku sudah tidak memakai jilbab lagi. Sudah tidak peraturan yang mewajibkanku untuk mengenakannya. Aku hanya merasa, belum waktunya.

Jeans dan rok mini adalah kegemaranku. Aku sangat casual ke kampus saat memakai jeans dan kemeja kotak-kotak. Sepatu convers hitam dan flat shoes menjadi handalanku. Aku juga suka memakai rok mini yang dipadu dengan heels dua belas senti. Sebagai anak komunikasi, aku merasa nyaman dengan apa yang aku kenakan, akupun harus profesional saat tampil di depan layar kaca membawakan berita gosip sore harinya atau berjalan di atas panggung catwalk.

Sangat beruntung rasanya hidup di Ibu Kota. Aku bisa mengekspresikan diriku. Dengan rambut panjang, kulit putih, dan tinggiku yang 179cm ini sangat membawa kesuksesan untuk karirku di dunia entertaint. Tapi suatu hari aku merasa benci dengan pilihan ini.

Malam itu aku baru saja akan pulang ke kosan. Aku sangat senang dengan kelap-kelip lampu Jakarta, snagat centil. Aku memberanikan diri naik dengan metromini, penuh dan sesak. Aku masih mengenakan rok mini hitam yang sedikit ada belaha di belakang.

“Eh mas, apa-apaan sih nyolek-nyolek pantat aku!” cetusku. Aku pun segera turun entah dimana waktu itu. Lelaki berbadan besar itupun turun dan mengikutiku. Aku risih, akupun berlari entah kemana waktu itu. Seperti cinderella yang heels-nya terlepas saat berlari, akupun demikian. Tak ada nyali untuk berbalik arah mengambilnya. Hingga di ujung gang aku melihat taxi yang akhirnya membawaku pergi.

Saat itulah, aku takut memakai rok mini di tempat-tempat umum. Apa salahku menggunakan rok mini? Salahkan mata mereka yang terlalu bernafsu melihat rok miniku. Salahkan fikiran mereka yang selalu porno! Bukan rok miniku, bukan pahaku! Mata dan fikiran mereka saja yang porno! Miris!
Make (mess) up

Ketraumaan ini terbawa-bawa hingga aku hanya mengenakannya saat aku harus berjalan di catwalk atau shooting yang mengharuskan aku mengenakannya. Antoni, adik kelasku yang mirip artis boyband yang merupakan anak dari dari artis management terbaik di Ibu Kota ini kaget melihat perubahanku. Tepatnya, ini pertama kalinya aku melihat dia, empat tahun setelah aku lulus SMA.

“Putri? Maksudku, kak Putri?”

“Hai! Antoni?” aku pura-pura tidak mengenali pria manis ini. Ditangannya ku lihat dia sedang memegang partfolio ku. “Apa yang kamu lakukan disini?”
“A-a-aku? Oh, aku disini mau bertemu papaku, Pak Dito.”
“Maksudmu, Pak Dito pemilik agency ini? Itu papamu?”
“Haha, iya kak. Aku baru saja pulang dari Paris menyelesaikan kuliah Fashion Marketingku.”

Aku sangat tertarik dengan Antoni. Entahlah, dia menawariku untuk ikut casting mencari model tunggal yang akan dia bawa show ke Paris. Dia memiliki proyek bersama teman-temannya di sana. Dia menawariku, tapi, mengapa hanya aku? Maksudku, mengapa hanya ada satu model

Aku kembali menggunakan rok mini dan heels dua belas sentiku. Tang Top hitam dan rambut hitam lurusku sudah terlihat menarik. Hhm, perlu sentuhan make up untuk membuat ku lebih cantik. Malam itu, aku di kantor hingga larut malam menunggu Antoni sampai dia tidak sibuk.

“Make-up mu belum luntur, Putri.” akhirnya suara Antoni memberikan tanda aku sudah mulai bisa casting. “Maaf, banyak yang harus aku persiapkan untuk keberangkatan bulan depan.”

Aku hanya diam, tidak ada kata-kata yang terucap. Rasa capek tidak bisa ditutupi oleh senyuman ini.

“Jangan cemberut, ayo kita ke pantai!”
“Ke pantai? Aku harus casting loh!”
“Aku sudah putuskan!”
“Putuskan apa?”

Antoni hanya menarik tanganku berlari menuju mobilnya. Dia membawaku jauh dari kesibukan ibu kota. Di pantai ini dia berlari-lari bersamaku tanpa mengucapkan kata-kata sedikitpun. Aku masih dengan rok mini ku dan di pantai ini Antoni mengucapkan cintanya. “Aku cinta sama kamu, Putri! Kamu sangat cantik dengan rok mini ini! Mau kah kamu ikut ke Paris bersamaku?”

Aku pun hanya tersenyum dan mengangguk. Mantan ketua OSIS yang lucu ini menyatakan cintanya. Dua minggu lagi akupun akan wisuda setelah satu semester aku ambil untuk fokus meniti karir waktu itu.

Di dalam mobilnya, kamipun berpadu kasih. Keperawananku hilang pada malam aku mendapatkan dua hal yang aku impikan, Antoni sebagai pacar dan kesempatan menjadi model di Paris. Entah karena kamu, rok mini, aku mendapatkan semua ini sekalipun aku bukan seorang gadis yang perawan lagi malam ini.

 

Cinta Pohon Karet

Aku menelusuri pepohonan karet di dekat kampusku. Saat itu adalah hari terakhirku di sana setelah menuntut ilmu empat setengah tahun. Ada hal yang aku sadari dari pohon karet ini. Mereka semakin tumbuh dan membesar, mereka memberikan kesejukan. Namun mereka terluka untuk diambil getahnya, diolah menjadi karet, dan bermanfaat untuk orang-orang.

Apakah aku seperti pepohonan ini? Atau mungkin percintaanku?

Aku semakin tumbuh dewasa. Sekarang aku sudah menjadi seorang sarjanawati dari sebuah universitas terbaik di Indonesia. Mungkin aku harus menunda bekerja dengan menggunakan ijazah itu. Aku sekarang menjadi seorang yang sedang fokus meniti karir di dunia modeling. Aku masih suka menggunakan rok mini meskipun banyak pria-pria dengan mata dan fikiran mesum yang membuat banyak wanita lainnya risih. Seperti pohon karet, aku berkorban banyak.

Aku tidak perawan lagi! Ya, dan terus kenapa? Apa semua akan menghukumku? Tidak! Tidak ada yang boleh menghukum karena ketidak perawananku ini.

Aku hanya tersenyum melihat tempat sampah di kamarku. Ada kondom yang semalam dipakai Antoni saat berpadu kasih denganku. Aku sangat bersyukur saat berpadu kasih pertama kali dengannya, tanpa kondom, dan aku tidak hamil! Aku hanya beruntung! Ya, HANYA beruntung! Dan beruntung lagi tidak tertular penyakit menular seksual. Bayangkan jika seandainya malam itu aku sedang subur dan berakhir hamil? Aku tidak akan mau menggugurkan kandunganku nanti demi karir modelku. Tapi jika aku hamil, aku akan kehilangan mimpi-mimpiku di Paris ini.

Ya, itulah ceritaku Putri Anggun Dwina. Seorang wanita yang bebas menentukan pilihannya! Bukan karena rok miniku, tapi karena pilihanku dan cintaku yang membuatku berada di Paris untuk menjadi seorang model. Aku belum memilih untuk menikah dengan Antoni, kekasih yang masih tertidur lelap di apartemen kami di tengah-tengah kota Paris ini. Aku harus mencegah kehamilan demi karirku di dunia model ini, kondom sangat membantu, dan Antoni pun menyetujuinya.

Sekali lagi, aku HANYA beruntung tidak hamil dan terinfeksi penyakit menular seksual karena malam itu. Dan aku di sini meniti karir, bukan karena rok miniku, namun karena pilihan dan cintaku.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *