Psikologi dan Alasan Mengapa Memilih Psikologi

Ini adalah tugas perdana di Psikologi UI
saat Kuliah Umum Psikologi 2010 di Auditorium Gedung H Lantai 4

Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, saya sudah mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang Psikolog Anak. Alasan yang sederhana sebenarnya, karena pada saat di bangku kelas tiga SMP saya berkesempatan menyuarakan Suara Anak Daerah Sumatera Barat dalam Kongres Anak Indonesia (KAI) V/2005 di Ancol, Jakarta. Sebagai Duta Anak Sumatera Barat, saya ikut ambil kursi di komisi pendidikan untuk menyuarakan aspirasi anak-anak Sumatera Barat khususnya mengenai pendidikan guna dibahas di mata nasional. Sebagai Duta Anak Sumatera Barat, ada suatu kewajiban di dalam dalam diri saya untuk menyuarakan hak-hak teman-teman di Sumatera Barat yang belum seutuhnya terpenuhi, parahnya hak-hak tersebut dirampas oleh orang-orang yang lebih dekat dengan anak-anak sendiri, seperti halnya meluangkan waktu untuk bermain dan belajar bahkan putus sekolah dan harus bekerja, kesemuaan hak-hak tersebut direnggut oleh desakan orang tua sendiri dengan alasan ekonomi.

Awalnya berasal dari keterlibatan saya di KAI V/2005 ditambah lagi dengan dipercayainya saya untuk menjalani amanat sebagai Duta Anak Indonesia Komisi Pendidikan 2005 membuat saya semakin tersentuh dan terpanggil, betapa pentingnya kita bersama-sama membantu, menyarikan solusi, dan menyelesaikan permasalahan yang merenggut hak anak-anak Indonesia. Itulah alasan pertama kalinya saya ingin menjadi seorang psikolog anak. Dengan terlibat secara aktif dalam mempromosikan dan mengkampanyekan hak anak melalui kegiatan-kegiatan forum dan kampanye anak semakin meyakinkan saya untuk mempelajari psikologi sebagai salah satu senjata saya membantu anak-anak Indonesia.

Saya dan teman-teman di Sumatera Barat melakukan advokasi kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat agar dibentuknya wadah penyalur aspirasi anak-anak Sumatera Barat. Pada tahun 2006 saya bersama dua rekan saya dianugerahi penghargaan sebagai Pemimpin Muda Indonesia. Penghargaan tersebut adalah penghargaan tertinggi bagi aktifis anak yang diberikan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta UNICEF kepada tiga orang anak setiap tahunnya yang secara aktif telah berjasa dan berkontribusi besar memperjuangkan hak-hak anak dan menyuarakan UU Perlindungan Anak No.23 Tahun 2003 di lingkungan mereka baik dari sektor formal maupun non formal. Pada tahun 2007 akhirnya proses advokasi yang murni dilakukan oleh anak-anak Sumatera Barat berbuahkan hasil dengan terbentuk dan diresmikannya Forum Anak Daerah (FORDA) Sumatera Barat.

Semenjak terbentuknya FORDA Sumatera Barat, saya bersama teman-teman lebih aktif mengkampanyekan apa yang menjadi hak kami sebagai anak-anak Indonesia. Terasa betapa intimnya perjuangan ini mengalir di dalam jiwa kami karena begitu dramatis, anak-anak memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi hak-hak mereka yang tidak sepantasnya direnggut begitu saja, bagaimana kami memperjuangkannya di forum-forum anak kabupaten/kota, forum anak di tingkat provinsi hingga membawa isu tersebut ke tingkat nasional dalam acara Kongres Anak Indonesia dan Forum Anak Nasional hingga melakukan dialog khusus dengan wakil rakyat di Gedung MPR RI, menteri-menteri, hingga menyusun deklarasi anak dan membacakannya di hadapan presiden. Itulah penyemangat saya untuk mengambil jurusan psikologi di universitas terbaik di Indonesia.

Banyak yang mencoba menggoyahkan prinsip saya untuk beralih ke Hubungan Internasional UI. Asumsinya adalah karena saya telah melakukan banyak kegiatan advokasi dan berdemokrasi sehingga bagus untuk menjadi diplomat. Namun saya tidak merasakan demikian. Kesemuan yang saya lakukan adalah hasil kerja keras saya bersama teman-teman Sumatera Barat. Saya sendiri sempat terpengaruh, namun apa yang sudah saya lakukan bersama teman-teman membuat saya yakin untuk mengambil psikologi saat mendaftar melalui jalur PPKB UI 2010. Harapan saya sendiri adalah saya bisa lebih mempelajari dan mendalami ilmu psikologi karena kecintaan saya kepada anak-anak Indonesia. Saya ingin tetap berkontribusi seperti apa yang sudah saya lakukan bersama teman-teman dalam memperjuangkan hak anak dengan bekal ilmu yang lebih yang akan saya peroleh di Fakultas Psikolgi UI.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *