December 7

Hujan Desember

Sore itu, hujan turun dengan deras membasahi jalanan Jakarta yang sudah lama kering. Desember kali ini lebih sendu, melebihi gelapnya langit ibu kota pada pukul 3 sore ini. Dari jendela kamarnya, Arum mengintip gelapnya langit dengan bunyi hujan yang meronta ingin masuk melalui jendelanya.

Arum, remaja cantik yang baru saja berulang tahun ke 26 tahun di akhir November lalu kembali menyelimuti badannya, enggan untuk beranjak dari kamar apartemen studionya. Di hari ulang tahunnya beberapa hari yang lalu, saat makan malam bersama pacar, dia dikagetkan dengan kata ‘putus’ dari sang pacar. Jangankan mendapatkan kejutan party dari pria kurus dan berkulit putih itu, kejutan luar biasa mengakhiri hubungan romansa yang sudah mereka bina selama tiga tahun terakhir.

Beberapa hari terakhir, Arum hanya terus menangis, membasahi bantalnya yang cuma bisa ia peluk. ‘Kenapa kita putus?’ Arum masih penasaran ketika Bobi, mantannya itu langsung pergi begitu saja tanpa meninggalkan penjelasan terlebih dahulu.

Sekitar tiga bulan yang lalu, ia menemukan teman kantornya yang berusaha menggoda sang pacar. Sangat yakin ia tidak pernah mengenalkan mereka satu sama lain, namun obrolan mereka sangat hangat di applikasi WhatsApp. Iapun berusaha untuk tidak curiga, karena sang pacar selalu bersamanya. Ya, terlalu naif bungkin, mau saja percaya begitu saja sekalipun menemukan sendiri buktinya.

Seminggu sudah dari makan malam tragisnya itu. Semua social media, nomor HP, dan applikasi chat menghilang. Benar, Bobi menghilang begitu saja. Tidak ada kabar lagi. Seperti hujan di Desember yang sudah kembali kering dan berdebu. Datang untuk membasahi sementara, lalu pergi dan dirindukan.

February 25

Cinta Pohon Karet

Seragam

Aku tidak suka kalau seragam sekolah ini wajib berkerudung. Iya, aku seorang muslim, tapi saat ini aku belum mengkerudungi imanku sendiri. Peraturan dari pemerintah setempat mwmbuatku harus wajib berjilbab ke sekolah sebagai salah satu atribut wajib seragam SMA.

Tahun pertama aku masuk sekolah, sepatu juga menjadi perkara yang besar. Sekolah menyediakan sepatu dengan merek yang sama untuk setiap murid baru. Tidak adilnya, untuk kakak kelas sepatu mereka sudah tidak sama lagi dan mengapa sekolah tidak memberikan penegasan yang sama untuk senior dan kami yang masih duduk dibangku kelas satu SMA waktu itu.

Sekarang aku sudah kelas tiga SMA. Sepatuku juga sudah tidak sama lagi dengan adik-adik kelas sepuluh yang masih bau kencur. Ini secara tidak langsung sebuah diskriminasi untuk sebuah peraturan di sekolah. Hanya sanggup bertahan untuk siswa baru, kasihan.

Hanya saja, jilbab masih menjadi atribut wajib untuk semua siswi di SMA ini, hhm, siswi di kota ini tepatnya. Ya, sebagai kota yang kental dengan keagamaannya, peraturan seragam sekolah berkerudung sekalipun menjadi fenomena yang biasa. Entahlah, apa hanya aku saja yang sibuk komplen dengan peraturan ini. Kasihan teman-teman non muslim yang harus berjilbab juga ke sekolah hanya karena mereka bersekolah di kota ini, kota dengan kuliatas pendidikan yang bagus.

Continue reading