Hujan Desember

Sore itu, hujan turun dengan deras membasahi jalanan Jakarta yang sudah lama kering. Desember kali ini lebih sendu, melebihi gelapnya langit ibu kota pada pukul 3 sore ini. Dari jendela kamarnya, Arum mengintip gelapnya langit dengan bunyi hujan yang meronta ingin masuk melalui jendelanya.

Arum, remaja cantik yang baru saja berulang tahun ke 26 tahun di akhir November lalu kembali menyelimuti badannya, enggan untuk beranjak dari kamar apartemen studionya. Di hari ulang tahunnya beberapa hari yang lalu, saat makan malam bersama pacar, dia dikagetkan dengan kata ‘putus’ dari sang pacar. Jangankan mendapatkan kejutan party dari pria kurus dan berkulit putih itu, kejutan luar biasa mengakhiri hubungan romansa yang sudah mereka bina selama tiga tahun terakhir.

Beberapa hari terakhir, Arum hanya terus menangis, membasahi bantalnya yang cuma bisa ia peluk. ‘Kenapa kita putus?’ Arum masih penasaran ketika Bobi, mantannya itu langsung pergi begitu saja tanpa meninggalkan penjelasan terlebih dahulu.

Sekitar tiga bulan yang lalu, ia menemukan teman kantornya yang berusaha menggoda sang pacar. Sangat yakin ia tidak pernah mengenalkan mereka satu sama lain, namun obrolan mereka sangat hangat di applikasi WhatsApp. Iapun berusaha untuk tidak curiga, karena sang pacar selalu bersamanya. Ya, terlalu naif bungkin, mau saja percaya begitu saja sekalipun menemukan sendiri buktinya.

Seminggu sudah dari makan malam tragisnya itu. Semua social media, nomor HP, dan applikasi chat menghilang. Benar, Bobi menghilang begitu saja. Tidak ada kabar lagi. Seperti hujan di Desember yang sudah kembali kering dan berdebu. Datang untuk membasahi sementara, lalu pergi dan dirindukan.

CategoriesCerpen Fiksi
Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Begin typing your search above and press return to search. Press Esc to cancel.